Senin, 20 Mei 2013

Dari Cerita Tentang Cerita


Cerita keenam
Masih ingat tentang betapa tabunya perceraian dan perselingkuhan dahulu?
Kini paradigma masyarakat mulai berubah
Terjadi pergeseran nilai
Di mata orang banyak, kini, perceraian hampir menjadi sesuatu yang dengan mudah didengar dan dibahas
Sudah tidak ada lagi perasaan 'terkejut'
Semuanya tampak mulai berdamai dan menganggapnya 'lumrah'
Bahkan untuk ranah perselingkuhan, yang menjadi aneh ialah karena masyarakat sebagai pihak ketiga yang berkedudukan sebagai penyimak justru sibuk memikirkan berbagai alternatif untuk me'wajar'kan tindakan tersebut
Sering ke luar daerahlah, belum punya keturunan mungkin, pasangan sudah tidak 'muda' lagi, atau sampe menyoal tentang gairah yang sudah pada titik jenuhnya
Padahal secara nyata tindakan perselingkuhan itu mengkhianati pasangan, melukai hati orang yang kita kasihi, dan mengandung moral yang tidak baik
Ini bukan mengurus kenapa orang bercerai
Beda menyalahkan perceraian dengan mempermasalahkan pihak yag berada di ruang lingkup proses perceraian 

Cerita ketujuh
Dalam agama apapun, sekte manapun, dan siapapun yang engkau sembah
Perzinahan tidak pernah diridhoi
Lantas jika Tuhan saja melarangNya 
Lalu bagaimana dengan kondisi sekarang?
Sudah menjadi rahasia umum kalau terdapat beberapa daerah yang terkenal dengan aktivitas prostitusinya
Ini namanya 'lokalisasi'
Lucunya pemerintah tetap bernafas lega dan menutup mata
Hebatnya lagi, kalau beruntung ada event yang dengan bangga membagikan kondom gratis
Mirisnya karena tidak sedikit kaum pelajar atau si 'agent of change' jurus hafal tentang pemetaan tempat esek-esek ini
Tidak, jangan 100% menyalahkan para pekerja seks komersial
Ada suami di luar sana yang memang doyan 'jajan' yang juga bisa disalahkan
Ada juga pemerintah khan
Pun ada pihak yang justru menyuburkan bisnis ini

Cerita kedelapan
Ada hal yang mesti diluruskan pada hal layak
'Keyakinan' yang dimiliki seseorang tidak layak diikutsertakan jika orang tersebut terjerembab dalam dosa
Hati-hati karena kita punya kecenderungan untuk masuk dalam kategori gangguan kejiwaan ...
Tapi ini tidak bersifat mendukung aliran atau mazhab apa pun 
Yang mengherankan adalah ada sekelompok orang yang tergabung dalam partai tertentu 
Memiliki pengikut yang senantiasa taklid dengan pemimpinnya
Justru tetap membela sang pemimpin meski telah tersiar kabar yang kurang sedap tentangnya
Dalil difitnah atau edisi "ini adalah cobaan" digaungkan 
Apa mereka lupa bahwa setiap manusia punya potensi untuk menjauhi kesempurnaan?
Sejak kapan mereka kehilangan daya nalar dalam berkehidupan?

Cerita kesembilan
Bahas tentang "dunia baju", tapi tunggu dulu, tahan pandangan Anda bahwa ini hanya mata kuliah wajib bagi wanita
"Dunia baju" ini universal
Ini tentang "baju takwa"
Kasus pertama tentang asal-usulnya
"Baju takwa" bagi pria di kalangan umat muslim di Indonesia yakni "baju koko" yang berasal dari budaya Cina yang melenda di bumi pertiwi
Kasus kedua
Fakta bahwa saat seseorang memutuskan untuk membeli "baju takwa" yang akan dikenakannya, baik oleh pria maupun wanita
"Ketakwaan" tidak serta-merta sepaket dengan "baju" yang dibeli itu
 Kasus ketiga
"Baju takwa" entah baju koko atau peci dan jilbab dan gamis
Dalam mengenakannya itu adalah "pilihan"
Tak ada paksaan di dalamnya
Terlebih lagi saat seseorang mengenakannya dan bersua dengan mereka yang memilih "tidak menggunakannya", maka mereka yang mengenakannya ini tidak punya "landasan" untuk mencaci dan menilai diri mereka lebih baik dari yang "tidak megenakan"

Cerita kesepuluh
Perbedaan
Melihat penduduk tanah merah putih masih terlalu sensitif maka menjadi wajar jika "perbedaan" tidak mendapat tempat seperti di dunia barat
Tapi
Penduduk kita yang "latah" dan selalu ingin "terlihat" ini
Terkadang juga memilih tampak "berbeda" dengan berbagai alasan
Yang menjadi aneh misalnya saja ketika seseorang memilih untuk mewarnai rambutnya, mereka justru seolah-olah ingin terlihat seperti orang barat
Padahal itu hanya tampilan
Mereka tidak memilih untuk mengikuti "pola pikir" orang barat seperti mereka yang menghargai perbedaan, secara baik menuturkan apa yang mereka pikirkan, atau pola hidup sehatnya

0 komentar:

Poskan Komentar